Rabu, 10 Oktober 2012

Makna Upacara Kelahiran dalam Adat dan Budaya Aceh


Bab 1
Pendahuluan

1.1            Latar Belakang
Masyarakat Aceh banyak mengenal berbagai macam upacara, setiap upacara identik dengan acara makan-makan yang seringkali berlangsung setelah acara seremonialnya atau dinamakan dengan kanduri. Upacara yang tetap berlangsung hingga saat ini masih dilakukan dalam masyarakat Aceh di antaranya adalah: upacara turun ke sawah, upacara tolak bala,
upacara perkawinan, upacara kehamilan anak pertama, upacara kematian
, dan lain-lain.
Upacara-upacara tersebut masih dipertahankan karena dibutuhkan oleh masyarakat untuk memenuhi tuntutan adat. Menurut masyarakat Aceh, adat harus dijalankan dan dipenuhi, selain itu kita harus mematuhinya juga. Seperti pepatah Aceh menyebutkan bahwa : Matee aneuk meupat jeurat, matee adat pat tamita.
Bagi kalangan masyarakat Aceh, adat telah mendapat tempat yang istimewa dalam perilaku sosial dan keagamaannya. Begitulah makna adat yang dipahami oleh masyarakat Aceh sejak zaman kerajaan hingga sampai sekarang ini, apabila pada satu moment kita tidak menjalankan adat atau berupa upacara yang telah ditentukan maka yang bersangkutan merasa sedih dan dirinya merasa sangat terhina karena tidak dihormati secara adat yang berkembang dalam masyarakat Aceh.
Salah satu contoh adalah upacara sebelum dan sesudah kelahiran bayi, banyak sekali rangkaian upacara-upacara adat yang akan dilaksanakan. Semua itu erat kaitannya dengan adat istiadat Aceh dan juga tidak bertentangan dengan kaedah-kaedah yang dianjurkan dalam ajaran Islam.
Namun, diharapkan upacara ini janganlah sampai hilang, karena upacara ini telah menjadi bahagian dari adat Aceh yang harus kita lestarikan. Dari upacara ini terwakili beberapa nilai ketauladanan, di antaranya nilai penghormatan dan nilai kebersamaan dalam menyambut kebahagian.


1.2            Rumusan Masalah

1.      Bagaimana makna upacara tujuh bulanan dalam masyarakat Aceh?
2.      Bagaimana makna upacara setelah melahirkan atau madeueng?
3.      Bagaimana upacara di masa bayi?

1.3            Tujuan

1.      Untuk mengetahui bagaimana adat ataupun tatacara tujuh bulanan dalam masyarakat Aceh.
2.      Untuk mengetahui makna upacara setelah melahirkan atau madeueng.
3.      Untuk mengetahui apa-apa saja upacara pada masa bayi.



Bab 2
Pembahasan

2.1            Upacara Tujuh Bulanan 
Upacara tujuh bulanan dalam adat Aceh terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1.      Ba bu/ Mèe bu (Mengantar Makanan)
Upacara ba bu atau meunieum berlangsung dua kali. Ba bu pertama disertai boh kayee (buah-buahan), kira-kira usia kehamilan pada bulan keempat sampai bulan kelima. Acara yang kedua berlangsung dari bulan ketujuh sampai dengan bulan kedelapan. Bahan-bahan persiapan ba bu atau mengantar nasi terdiri dari bu kulah (nasi bungkus), dan lauk pauk yang terdiri dari ikan, daging ayam panggang, dan burung yang dipanggang. Ada juga di kalangan masyarakat acara ba bu hanya dilakukan satu kali saja. Semua itu tergantung kepada kemampuan bagi yang melaksanakannya, ada yang mengantar satu idang kecil saja dan adapula yang mengantar sampai lima atau enam idang besar. Nasi yang diantar oleh mertua ini dimakan bersama-sama dalam suasana kekeluargaan. Ini dimaksudkan bahwa perempuan yang lagi hamil adalah orang sakit, sehingga dibuat jamuan makan yang istimewa, menurut adat orang Aceh perempuan yang lagi hamil harus diberikan makanan yang enak-enak dan bermanfaat.
Semua yang dihantarkan ke rumah dara barô oleh mertuanya itu mempunyai makna tertentu salah satunya dari daging burung yang dipanggang mempunyai makna supaya anak yang dikandung menjadi cerdik dan lincah, secerdik dan selincah yang dimakan. Jenis burung yang biasa dipilih adalah burung merpati. Tujuan dari upacara ini agar dara barô mendapat makanan yang enak-enak, sebagai penghormatan dari mertua untuk menghadapi masa kelahiran bayi.
2.      Pantangan
Pantangan yang harus diikuti antara lain ialah duduk di ujung tangga (ulee reunyeun ), berada di luar rumah pada senja dan malam hari,melangkahi kuburan-kuburan, datang ke tempat-tempat yang suram, membicarakan hal yang senonoh, melihat benda-benda dan  hewan  yang ajaib, dan pantangan yang lainnya.
3.      Meuramin
Meuramin adalah acara makan-makan bersama antara kedua belah pihak keluarga. Biasanya acara ini berlangsung di pantai, bahan-bahan yang dibawa hampir sama dengan acara upacara ba bu yaitu bu kulah beserta lauk pauk, nicah dan buah-buahan yang asam.
Makanan yang pertama dimakan adalah nicah, buah-buahan, dan yang terakhir makan bu kulah.

2.2            Upacara Kelahiran Bayi

Sebelum bayi lahir, mertua mengusahakan seorang bidan untuk menantunya, tetapi semua biaya bersalin ditanggung oleh keluarga dara barô. Sedangkan pihak mertua membantu sumbangan yang berupa uang, ikan, minyak tanah, dan kebutuhan sehari- hari di masa hari pertama kelahiran bayi.
Bidan yang telah diutuskan oleh mertua untuk merawat hari-hari bayi dan ibu bayi. Banyak para kerabat yang mendatangi rumah dara barô yang melahirkan, setelah bayi lahir lalu dibersihkan oleh bidan dan sekaligus merawat ibu bayi. Kemudian bayi diletakkan di atas ranjang atau peuratah. Setelah itu pusat bayi dikerat dengan sepotong buluh tipis yang telah diraut, kemudian dibalut dengan kain bersih gueudong dan diantar kepada ayahnya yang sedang menanti dibilik (juree).
Setelah menyambut bayinya ke dalam pangkuan, ayah mengangkat bayinya dan membacakan azan setentang telinga, sebagai simbolik menyambut kelahiran seorang muslim. Setelah selesai, kepada bidan diberikan sembahan (hak bidan) berupa uang jerih oleh ibu si wanita dan juga mertuanya.
Ibu mertua yang dating menjenguk menantu dan cucunya pada hari itu membawa ketan kuning (bu leukat kunèng) dengan serba kelengkapannya untuk menyunting dan menepung tawari menantunya. Pada upacara tersebut iapun memberikan pula uang hadiah kepada menantu yang masih terbaring.
Selama 44 hari lamanya wanita bersalin tidur dan bangun di tempat tidurnya, dilarang berdiri dan berjalan, disugukan nasi putih dengan ikan kayu kering, dan minumnya sangat dibatasi. Pantang 44 hari tersebut dimaksudkan supaya kesehatannya segera pulih kembali.



1.      Koh Pusat
Bidan terlebih dahulu menyiapkan alat-alat untuk menyambut kelahiran bayi berupa benang terdiri dari 2 macam, yaitu 7 warna  jika yang lahir anak laki-laki, dan benang 5 warna untuk anak perempuan serta teumen (sebilah buluh) yang sudah diraut sebagai alat untuk memotong pusat. Ibu dara barô menyediakan kunyit dan sirih selengkapnya, sedang mertuanya menyediakan ija tumpèe (kain pembungkus bayi).
Cara memotong pusat ialah dengan mengikat kedua ujungnya dengan tali benang 7 warna bila laki-laki, atau tali bennag 5 warna bila perempuan. Kemudian bidan mengambil teumen lalu memotongnya. Pusat bayi yang sudah dipotong dibubuhi kunyit.
Benang 7 warna melambangkan kekuatan seorang laki-laki, dan benag 5 warna melambangkan kekuatan seorang wanita tidak sama dengan laki-laki. Kunyit yang berwarna kuning merupakan sumber kemuliaan.

2.      Azan atau Qamat
Dalam upacara ini terkandung arti pengenalan pertama terhadap agama Islam kepada bayi. Setelah bayi dipangku dengan menghadap kiblat, lalu azan atau qamat dibaca dengan suara yang nyaring.
Jika yang lahir itu bayi laki-laki maka dibacakan azan, akan tetapi jika bayi yang lahir adalah perempuan maka akan dibacakan qamat.

3.      Tanom Adoë (Menanam Placenta)
Setelah melahirkan, adoë (placenta) harus ditanam. Apabila dibuang sembarangan, adoë tersebut akan diganggu oleh bermacam-macam hewan yang menimbulkan berbagai penyakit. Adoë yang lahir bersama-sama bayi tadi dibersihkan oleh bidan, lalu dimasukkan ke dalam sebuah periuk yang terbuat dari tanah liat yang di dalamnya dibubuhi zat asam garam dan abu dapur supaya adoë dapat kering dan tidak membusuk. Adoë dari bayi laki-laki ditanam di bawah cucuran atap, dan adoë dari bayi perempuan ditanam di bawah tangga. Tempat penanaman ini dikaitkan hubungannya dengan kedudukan anak laki-laki sebagai orang yang mencari nafkah dan fungsi anak perempuan sebagai ratu rumah tangga.
Adoë bayi tidak boleh ditanam jauh dari rumah. Ini mempunyai tujuan agar anak tidak suka meninggalkan kampung halamannya kelak. Penanaman adoë mempunyai syarat-syarat tersendiri. Waktu penanaman harus menghadap kiblat. Periuk yang berisi adoë harus dilobangi di bawah, supaya tidak berair, dan tidak terlalu dalam tanah.

2.3            Upacara di Masa Bayi
Tahapan upacara pada masa bayi adalah sebagai berikut.
a.       Cukô ôk (Cukur Rambut)
Upacara cukur rambut dilakukan setelah bayi berumur 1 bulan. Upacara ini bertujuan untuk membuang rambut kotor yang dibawa sejak lahir. Selain dari pada itu bertujuan agar rambut bayi tumbuh lebih subur lagi. Upacara ini hiasanya disertai dengan kenduri.          

b.      Peucicap
Upacara peucicap adalah upacara untuk memberi rasa makanan kepada bayi. Acara peucicap dilakukan oleh orang-orang alim terpandang dan baik budi pekertinya. Ini mempunyai tujuan agar bayi itu kelak akan alim, terpandang, dan baik budi pekertinya.
Peucicap dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim diteruskan dengan ucapan beumamèh lidah, panyang umu, mudah raseuki, di thee lam kawôm dan taat keu agama (manislah lidah, panjang umur, mudah rezeki, terpandang dalam keluarga, dan taat dalam agama). Setelah ucapan itu selesai lalu diolesi madu, air (pati) buah-buahan pada mulut bayi..
Acara yang terakhir adalah memperlihatkan surat Yasin dan rencong pada bayi. Acara ini bertujuan agar kelak ia menjadi anak yang taat kepada agama, menjadi anak yang berani mempertahankan kebenaran dan berani melawan kejahatan.

c.       Akikah
Masyarakat Aceh menganggap upacara akikah merupakan adat yang bertautan dengan agama. Bagi orang-orang yang mampu, upacara ini dilangsungkan dengan menyembelih kerbau.
Upacara ini dilangsungkan di rumah tempat bayi itu lahir. Dahulu persiapan-persiapan dan perlengkapan upacara dipersiapkan oleh nenek dari pihak ayah. Pada saat sekarang semua persiapan akikah itu dipersiapkan oleh ayah si bayi sendiri. Pihak sebelah ayah dan ibu, hanya dating menyertai pada saat berlangsung upacara. Hewan sembelihan adalah hewan jantan, tidak boleh hewan betina.

d.       Peutrôn Aneuk Manyak
Upacara peutrôn aneuk manyak biasanya dilakukan oleh keluarga dari ibu bayi. Bayi pada usia 3 bulan, 5 bulan, atau 7 bulan dibawa ke luar rumah. Pada hari peutrôn itu diadakan kenduri menurut kemampuan dari orang tua (keluarga) bersangkutan.
Teungku sagoë diundang menghadiri acara tersebut, demikian juga orang-orang alim lainnya dan keluarga dekat, untuk turut bersukaria. Adakalanya pada hari itu diadakan permainan pèh rapa-i atau rapa-i peutrôn aneuk.
Acara peutrôn ini dilanjutkan dengan acara plah boh u (membelah kelapa). Maksudnya agar bayi tidak merasa takut apabila mendengar suara-suara mengejutkan atau mengerikan bila ia dewasa kelak.
Setelah bayi ditegakkan di tanah, Teungku sagoë menyebut: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan sambung dengan ucapan “lagèe bumoë nyoë teutap, meunan beuteutap pendirian gata” (seperti kukuhnya bumi ini, maka demikian pulalah pendirianmu harus tetap. Sesudah kelapa dibelah, lalu diperebutkan oleh keluarga pihak ayah dan ibu bayi.

e.       Peutrôn Dapu
Upacara peutrôn dapu (turun dapur) dilakukan pada hari ke 44 setelah bersalin. Persiapan upacara diusahakan oleh pihak ibunya, seperti beras, lauk pauk, dan lain-lain untuk dihidangkan kepada undangan. Pihak mertua pada saat upacara biasanya membawa gelang emas bayi bila cucunya perempuan, dan cincin emas bila bayinya laki-laki.
Selain daripada itu, pihak ibunya mempersiapkan paying, kelapa, pedang, batang pisang, dan tebu. Kedua bahan yang terakhir ini ditanam di halaman rumah. Pakaian untuk bayi berwarna kuning ataupun berwarna biasa.
Dalam upacara ini diundang seluruh keluarga pihak ibunya dan seluruh keluarga pihak ayahnya. Tidak ketinggalan pula diundang Geuchik, Teungku Sagoë, tetangga, dan pemuda kampung sebagai tenaga pekerja. Pada upacara ini sanak keluarga membawa neumèe (kado) untuk dipersembahkan pada bayi.
Pada saat upacara dilangsungkan bayi digendong oleh seorang laki-laki jika bayi itu laki-laki dan oleh seorang perempuan jika bayi tersebut perempuan. Seorang di antara peserta memayungkan bayi dalam gendongan. Teungku memegang pedang disebelah kanan, dengan perlahan menuju tangga.
Saat Teungku yang menggendong bayi itu melangkahi anak tangga pertama, seorang lain berdiri di dekat Teungku, lalu membelah kelapa di atas paying tadi. Belahan kelapa itu, sebagian dilempar ke halaman sebelah kiri, dan sebagian lagi dilempar ke halaman sebelah kanan. Teungku terus turun ke halaman rumah dengan cepat, lalu ia mencencang pohon pisang dan pohon tebu yang sudah ditanam tadi dengan pedang. Untuk anak perempuan acara mencencang batang pisang dan tebu, tidak dilakukan.
Kemudian Teungku menurunkan bayi itu di atas tanah sejenak. Setelah itu ia menggendong lagi dan terus menuju ke meunasah, diikuti oleh rombongan. Mereka berkeliling meunasah, kemudian membasuhi muka bayi dengan air, dan seterusnya mereka pulang ke rumah, serta menyerahkan bayi itu kepada ibunya.
Dalam upacara ini banyak lambing-lambang atau simbolis yang mengandung makna tertentu. Di antaranya ialah, bayi harus diturunkan oleh seorang Teungku agar menjadi orang yang alim, terpandang dan berkedudukan dalam masyarakat sebagaimana halnya dengan Teungku itu. Pakaian atau paying kuning melambangkan keturunan orang baik-baik. Dahulu tidak sembarangan orang dapat memakai warna itu, tetapi pada saat sekarang keadaannya sudah berubah.
Membelah kelapa di atas kepala mengandung makna supaya anak itu tidak takut pada suara petir. Mencencang pohon pisang dan pohon tebu merupakan gambaran seorang yang pergi berperang menghadapi musuh. Membawa anak ke meunasah dan membasuh mukanya, maknanya supaya rajin ke meunasah dan menunaikan kewajiban agama serta ikut dalam masalah sosial.
Setelah semua ritual selesai, diadakan hiburan seperti rebana (rapa-i) atau gendering, dan lain-lainnya, sebagai bukti suka cita keluarga.


 
Bab 3
Penutup

1.1            Kesimpulan
Masyarakat Aceh banyak mengenal berbagai macam upacara, setiap upacara identik dengan acara makan-makan yang seringkali berlangsung setelah acara seremonialnya atau dinamakan dengan kanduri. Upacara yang tetap berlangsung hingga saat ini masih dilakukan dalam masyarakat Aceh di antaranya adalah: upacara turun ke sawah, upacara tolak bala,
upacara perkawinan, upacara kehamilan anak pertama, upacara kematian
, dan lain-lain.
Salah satu upacara yang masih dilakukan adalah upacara kelahiran bayi, yang meliputi ba bu, pantangan, meuramin, kelahiran bayi, koh pusat, azan atau qamat, tanoem adoe, dan madeueng. Ada pun upacara di masa bayi meliputi cuko ok, peucicap, akikah, peutroen aneuk manyak, dan peutroen dapu.

1.2            Saran
Sebagai orang Aceh dan penerus kebudayaan Aceh seharusnya kita bangga dan harus mampu melestarikan kebudayaan Aceh. Sehingga kebudayaan Aceh masih bisa diingat dan masih bisa diturunkan kepada penerus.





0 komentar:

Poskan Komentar